Negara-negara Asia Tenggara dan China, yang terletak di persimpangan Samudra Pasifik, Samudra Hindia, Laut Andaman, dan Laut China Selatan, memiliki salah satu ekosistem pesisir dan laut terkaya di dunia. Ekonomi di wilayah ini sangat bergantung pada laut, dengan sektor utama seperti perikanan dan pariwisata yang bertumpu pada sumber daya laut, serta pertanian yang dipengaruhi oleh musim monsun Asia.
Namun, dalam upaya mengejar pembangunan ekonomi yang pesat, wilayah ini menghadapi kerusakan signifikan akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim, seperti degradasi ekosistem laut, pencemaran air, pemutihan karang, hilangnya mangrove, dan erosi pantai.
Untuk mengatasi tantangan ini, Bandarjudindo China-Southeast Asian Countries Marine Cooperation Forum didirikan pada 2013. Selama satu dekade terakhir, forum ini telah menggelar tujuh pertemuan guna meningkatkan kolaborasi dalam sains dan teknologi kelautan. Forum ini bertujuan merancang strategi berbasis ilmu pengetahuan untuk menangani permasalahan lingkungan bersama.
Sejalan dengan Dekade Ilmu Kelautan untuk Pembangunan Berkelanjutan PBB (2021–2030), forum ini berkomitmen memulihkan kesehatan laut dengan mengundang pembuat kebijakan dan ahli dari China dan Asia Tenggara untuk berdialog, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan solusi kolaboratif.

